Tuesday, November 27, 2012

NAPAK TILAS GEDUNG BIOSKOP LAMA DI JAKARTA

Masih ingat lagu "nonton Bioskop" ciptaan alm. Benyamin Sueb, dan dipopulerkan oleh alm. Bing Slamet? Ya, lagu itu menceritakan tentang pengalaman seorang pemuda bersama pacar ketika nonton bioskop. Tentu saja gambaran bioskop dalam lagu itu sangat berbeda sekali dengan bioskop yang ada saat ini.
Malem minggu aye pergi ke bioskop, bergandengan ame pacar nonton koboi, beli karcis tau-tau keabisan, jage gengsi ke pakse beli catutan. Aduh emak enaknye nonton dua-duaan, kaye nyonye dan tuan di gedongan, mau beli minuman kantong kosong glondangan, malu ame tunangan kebingungan.
Ya, saat itu di bioskop masih terdapat tukang catut, istilah untuk calo karcis saat itu. Beda sekali kondisinya dengan saat ini, yang bahkan bisa pesan lewat internet, jadi saat ini calo tiket bioskop dah gak ada sama sekali. Awal mula bioskop dimuali dengan seorang Belanda bernama Talbot yang mengusahakan sebuah bioskop. “Gedung”nya berupa sebuah bangsal berdinding gedek dan beratap kaleng di Lapangan Gambir. Setelah pertunjukan di Lapangan Gambir selesai, bioskop itu pun lalu dibawa keliling ke kota-kota lain. Ibaratnya seperti pasar malam (komidi putar) yang berpindah-pindah tempat.
Seorang Belanda yang lain bernama Schwarz mengikutinya. Mula-mula bioskop yang diusahakannya itu main di tempat orang belajar menunggang kuda, lalu di Kebon Jahe, dekat Tanah Abang. Terakhir bioskop Schwarz ini menempati gedung di Pasar Baru. Sayang tak lama kemudian gedung permanen itu habis terbakar. Seorang Belanda lain bernama de Callone mengusahakan bioskop Deca Park. Mula-mula berupa bioskop terbuka di lapangan yang di jaman sekarang disebut “misbar”, gerimis bubar. Tetapi kemudian de Callone menggunakan sebuah gedung yang dimamakannya “Capitol” di Pintu Air.
Seorang pengusaha Cina setelah itu mendirikan pula bioskop di Pintu Air. Nama bioskop itu ialah “Elite”. Beberapa tahun kemudian bioskop itu dijual kepada Universal Film Co.
Pada jaman itu penonton sangat menyukai film-film seperti Fantomas, Zigomar, Tom Mix, Edi Polo dan film lucu yang dibintangi oleh Charlie Chaplin, Max Linder, Arsene Lupin dan lain lain. Film-film itu semua adalah film bisu yang diramaikan oleh orkes.
Sampai saat penyerahan Belanda kepada Jepang pada tahun 1942, bioskop yang ada di Jakarta adalah sebagai berikut : “Rex” di Kramat Bunder, “Cinema” di Krekot, “Astoria” di Pintu Air, “Centraal” di Jatinegara, dua bioskop “Rialto”, masing-masing di Senen dan Tanah Abang. Kemudian bioskop “Thalia” di jalan Hayam Wuruk, “Olimo” yang sekarang tdak ada lagi, “Orion” di Glodok dan “Al Hambra” di Sawah Besar.
Bioskop Capitol di Pintu Air khusus di peruntukkan bagi orang Belanda saja. Sebagai perkecualian ialah para bupati dan anggota “Volksraad” bangsa Indonesia. Tarif “Capitol” cukup mahal pada jaman itu. Satu setengah gulden, tanpa kelas. sekarang bioskop ini sudah tidak ada lagi.
Bioskop “Oost Java” terletak di pojok Merdeka Utara – Jalan Veteran III, sekarang sudah tidak ada lagi. Di Gedung inilah dulu berlangsung rapat umum yang diselenggarakan oleh Kongres Pemuda II. Dalam rapat umum ini W.R Supratman dengan biolanya memperkenalkan lagu “Indonesia Raya” untuk pertama kalinya.
Begitu juga bioskop “Rembrandt” di Pintu Air sekarang hanya tinggal kenangan saja bagi orang-orang tua yang pernah tinggal di Batavia. (Sumber : Bioskop Pertma di Jakarta)
Yang kemudian gw alami dan sebagian gw pernah nonton juga adalah : Djakarta Theater di jl MH Thamrin yang saat ini masih berdiri megah gedungnya, walau sebagian terutup oleh oleh Sari Pan Pacific.
Kemudian ada lagi di kawasan depan SMAN 6 yang sekarang menjadi Blok M Plaza, dahulu di situ terdapat gedung bioskop yang sepertinya paling besar dan megah di Jakarta pada waktu itu, bernama New Garden Hall. Setelah berusaha browsing tapi gak nemu fotonya, akhirnya ada temen SMA posting Foto gedung bioskop News Garden Hall, karena kebetulan SMA gw di seputaran situ dulunya, yakni di jl Bulungan.
Di perempatan Senen terdapat Grand Theater dan Mulai Agung Theater yang selalu dipenuhi oelh baliho film2 nasional :)
Ada pula bioskop di kawasan Kramat Raya yang khusus memutar film-film India, RIVOLI Theater, sayang bioskop itu kini dah rata dengan tanah
Di bilangan Tebet terdapat Trio bioskop yang berada pada satu deret di jalan Supomo yaitu : Viva, Tebet dan Wira. Saat ini Wira gedungnya udah gak ada
Di Pasar Minggu ada Bioskop Lingga Indah, dan Nirwana, yang saat ini masih ada atau nggak gedungnya.
Kemudian di Bendungan Hilir ada Benhill Theater
Di daerah Pluit, tepatnya di Latumenten terdapat Bioskop Liberty, yang saat ini tinggal gedungnya aja yng sudah lusuh dan kumuh
Di daerah palmerah juga ada gedung bioskop antara lain yang bisa diingat adalah Seroni dan Nirwana Di Slipi di depan Lapangan Bola Wijayakusuma dulu terdapat gedung bioskop bernama Mini Theater, tempat gw waktu kecil suka nonton... hehehe, karena murah dan dekat rumah
Di Jakarta gedung bioskop pertama dari grup 21 adalah STUDIO 21, letaknya di Jalan Thamrin, kalo gak salah berdiri awal tahun 90-an... tapi sekarang udah gak ada, berganti ama gedung BII Tower, JL MH Thamrin Kav 51.
Munculnya studio-21 wkt itu dirasakan mengancam keberadaan 'gedung bioskop' kesayangan masyarakat setempat. Berhimpitan waktu dg itu, teknologi video kian maju, jadilah masyarakat mudah mendapatkan / membeli / menyewa kaset / cakramnya. Yaa video kian jadi populer
Saat ini di Jakarta sudah banyak bioskop modern antara lain dari grup 21 dan Blitz. Dan biasanya jarang dengan gedung sendiri, malainkan berada dalam Mal-mal besar dengan tata suara mulai dari Dolby Digital yang pertama kali memasuki pasar dengan di rilisnya film Batman Return tahun 1992, ampai akhirnya pada tahun 1993, DTS (Digital Theater System) dan SDDS (Sony Dinamic Digital Sound) yang diperkenalkan th 1993 lewat film Jurasic Park dan Last Action Hero.
Perlahan-lahan format DTS kemudian banyak di adopsi oleh film-film box-office.
Semantara itu THX bukanlah suatu standard format rekaman suara, melainkan standard bagaimana sistem audio video yang baik dapat dihasilkan. THX merupakan lembaga sertifikasi kualitas performansi audio pada suatu ruangan. Lembaga ini digagas oleh Lucas Films dan nama THX diambil dari film Lucas pertama yang berjudul ‘THX 1138′. Nama Tomlinson Holman yang kala itu selaku direktur teknik Lucas film, bersama timnya tahun 1980an adalah pionir yang menetapkan cikal dari standard THX saat ini.
Untuk sistem audio, sertifikasi lebih ditujukan pada desain tata ruang, isolasi, desain akustik, serta pemilihan dan penempatan sistem audio. Ada dua jenis sertifikasi, yang pertama dinamakan THX Ultra untuk ruangan sekelas cinepleks atau theater dan yang kedua THX Select untuk ruangan kecil seperti home theater.
Sertifikasi ini tentu akan menambah biaya produksi dari satu film atau perangkat yang mendapat sertifikat. Namun pinsipnya ada harga tentu ada kualitas. (Sumber : Mengenal Tata Suara Bioskop atau Bioskop Rumah)
Menurut data harian Analisa, Indonesia hanya memiliki 190 bioskop,
Tercatat, dari 534 kabupaten di Indonesia, hanya 55 kabupaten kota yang sudah memiliki fasilitas bioskop.

No comments: